lelaki itu meraba lembutnya luka
perlahan mengusap tiap sayatan murka
ada percik darah di balutan mata yang kian sunyi
perempuan itu memandang kelamnya duka
perlahan memudar di ujung air mata
ada setetes embun melebur di sudut terdalam
mereka tertawa
mereka mengubur luka, duka
entah kenapa,
mereka terus tertawa, terbahak, bahak
mengguncang kaki_kaki bumi
memekik di ujung_ujung langit
berhenti
diam
sunyi
sepi
beku
semua telah menjadi batu
tak tertawa, tak mengubur luka
perawannya sia-sia